May 7, 2019

Hati, apa yang kau mau dariku?
Terlalu banyak perjalanan ku lalui, ku habiskan pula tangisku di sini. Masih saja kau terangi jalanku tanpa kata. Tanpa aba-aba. Hanya bisik saja, ikuti aku. Letakkan serpihan hatimu disitu, lupakan sakit, berbahagialah sedikit.

Hati, apa yang kau inginkan dariku?
Ini bukan kebahagiaan yang kau ceritakan. Ini bukan milikku untuk ku genggam. Bagaimana jika aku tak mampu melepasnya kembali? Apakah kau mampu melewati perihnya lagi? 

Hati, apalagi yang harus aku lakukan? Jika rasa ini yang kau beri, bagaimana cara bercerita bahwa aku baik-baik saja? Aku tidak pernah baik-baik saja bila ini yang kau maksud dengan cinta. 

Kau tahu betapa inginku memelukmu lagi dan lagi? Betapa aku ingin menghabiskan matahari denganmu dan bercerita tentang kau dan aku yang merenda pilu ini. Suatu hari nanti, akan ku tuliskan tentang rasamu untukku yang tak dapat ku sentuh. Tentang perjalanan kita yang tak sebentar, dengan patahan hati yang tersebar. Menceritakan rindu membiru yang tak pernah sampai pada bisik nada kalbu mu..

Hati, inikah yang kau janjikan? Tentang rasa yang tidak akan pernah sampai, yang hanya mampu ku rangkai dengan aksara dan entah bahagia atau lara.

Barangkali aku yang salah dengan berpikir bahwa luka-luka yang kita punya bisa saling menyembuhkan satu sama lain. We are just too broken and our pains are beyond repair. 💔

May 3, 2019

Patah & Terbelah


Di setengah putaran malam, tiba-tiba terfikir satu hal yang mendadak menjadi jawaban atas semua pertanyaan ini. bahwa sebenarnya, manusia itu akan selalu saling menyakiti satu dengan yang lainnya. karena kita bukan manusia yang utuh sesungguhnya. retakmu yang tak berujung akan selalu mencari siapa yang mampu menutupnya. dan siapapun dia yang mampu menutupnya, akan mencari dia yang membawa penawar racun dalam tubuhnya. akan selalu ada haus yang tak terperi, akan selalu ada hilang yang tak kunjung kembali, akan selalu ada missing pieces yang tidak menemukan letaknya lagi. kau bawa pergi, kau bawa pulang mendaki hati yang tinggi, pun tak kau temukan dimana. kau lelah, kecewa pun datang tak berkilah. hidup seketika menjadi salah. memaki kehidupan yang membuatmu berkeluh kesah.

ini hanya tentang menerima. ini hanya tentang mengerti juga. bahwa tidak ada manusia yang mampu mengobati. kita hanya mampu sama-sama mencari. manusia-manusia patah saling berbagi kisah, mendengar cerita dari jejak yang tersisa, kau patah, aku pun terbelah. itu tidak menjadikan kita kalah. mari bertutur kata di tengah malam yang dingin dan segelas kopi panas pemuja semilir angin di langit luas. aku, kau dan kita yang tak pernah tuntas.

March 4, 2019


Dear you,
Untuk semua harapan yang pernah kau tanamkan, semua rasa yang kau tumbuh suburkan, semoga menjadikanmu berteduh di bawahnya, menjadikanmu tenang karenanya. atas semua penyesalan dan kekecewaan yang menghinggapi, nina bobokkan luka-luka itu kali ini. tidak perlu lagi kau bawa kesana kemari. lihatlah kesedihan menaiki bahumu, mencari gelak tawa yang telah lama sepi membisu.

kelak kau akan berjalan jauh menelusuri taman terindah berbunga cinnamon roll yang berkelopak mekar mewangi seperti kesukaanmu. dengan secangkir kopi, larutkan gundahmu, letakkan resahmu. aku menunggu disitu.

untuk semua waktu yang pernah kita bagi, persahabatan yang pernah kita lewati, aku tidak akan meninggalkanmu sampai tua dan melupa. asalkan jangan lelah ingatkanku tentang cerita planet sepi itu. :)

“ Terbentur, terbentur, terbentur, Terbentuk.” - Tan Malaka

December 12, 2018

Perempuan

Untuk semua perempuan, bahumu mampu menahan dunia yang meminta kau bawa. Ruas tulangmu, mungkin itu baja. 

Tuhan begitu berhati-hati menciptamu, wangi yang tak pernah kau tahu, langit lebih dulu mengenal namamu. Perempuan tangguh bersimbah peluh, pelipur lara menyuapi ego manusia. tidak ada pilu melainkan kau bungkus senyum yang menenangkan. Tidak ada tangis tanpa kau seka sendiri lalu berdiri dan berjalan kemudian. Tidak ada lelah yang pernah kau hitung, hanya cinta yang selalu kau beri. Kebahagiaan mereka mampu mengenyangkan rasa. Katamu, kau tidak apa-apa. 

Untuk perempuan pemilik hati seluas bumi, siapa yang menjanjikanmu pelukan di penghujung senja, sedang kau selalu memaafkan begitu saja? Tuhan tidak pernah salah ya. Kau adalah tempat kembali pulang. Kau adalah detak jantung rumah tangga. Kau adalah istri yang menerangi. Kau adalah ibu, tiang dari tegaknya anak-anakmu kelak. Kau adalah perempuan itu sendiri, yang menyembunyikan retak, dibalik luka kakimu yang berdiri tegak. 

Bertahanlah, kau tidak sendiri. Akan ada cinta yang mengalir untukmu, akan selalu ada hujan setelah panas terik yang membakarmu. Kau berharga. Lebih dari dunia dan seisinya. Jangan selimuti rasa yang tidak anggapmu istimewa. Tidak akan ada gerakmu yang tersia-sia, seperti waktu yang memihakmu sepenuhnya 🖤

August 7, 2018

Semua untukmu

Coba sini. Mendekatlah padaku. Sudah sampai hembusan nafasku di ujung-ujung kulitmu? Sudah lekat-kah tatapanku? Sekarang coba, apa warna bola mataku? Apa kau bisa rasakan genggaman eratku? 
Bisa rasakan kuku panjangku menembus jauh ke pergelangan denyut nadimu? Sekarang coba, pakai bajuku. Bisa kau rasakan kain kasarnya di atas perutmu? Atau seratnya justru melukai punggungmu? 
Oh! Aku rasa kau harus coba celanaku. Memang sudah tidak bagus lagi, tapi celana ini saksi. Lihat saja noda-nodanya yang masih wangi. Entah wangi darah atau minyak wangi. Aku menggigil kedinginan! Ditengah bongkahan es lembut seperti ini, apa yg aku lakukan dengan memberikan semua yg aku miliki padamu? Terkecuali sepasang sepatu tanpa warna ini yang masih memeluk kakiku. Tapi, aku pikir, aku berikan saja kepadamu lagi. Biar aku tak beralas kaki, aku masih bisa mencari yang baru lagi. 

Nah! Ini yang aku tunggu, sekarang kau sudah menjadi aku! Ini benar-benar aku! Aku mengitarimu, berdecak kagum! Kau sudah memaki baju hitam dengan wangi parfum di bahunya. Itu wangiku! Kau sudah memakai celana yang umurnya melebihi umur cintaku pada kekasihku! Dan akhirnya kaupun memakai sepatu yang selalu ku pakai untuk menjalani hidup! Sekarang, berjalanlah ke depan, langkahkan kakimu menembus lorong-lorong itu, basahi sepatumu dengan genangan air sehabis hujan yang selalu ke ganggu di pinggir jalan. Apapun! Apapun yang penting jadilah aku! Aku berikan semua itu untukmu. Pergilah,aku selalu disini andai kau mencariku. Kalau-kalau satu hari, kau sudah tidak kuat lagi menjadi aku, atau kau tidak sanggup lagi berjalan dengan penuh luka disitu. Kembalilah. Saat kau kembali, kau lucuti semua milikku. Lalu, ku jamu kau dengan makan malam dirumahku. Bersama orang-orang yang sebelumnya mencoba berbicara lantang tentang hidupku. Kita akan berpesta tak kenal waktu, dan ceritakan disitu, bagaimana rasanya menjadi aku. 

Oh pesta itu akan menjadi sunyi. Tak akan suara denting gelas maupun piring berbunyi. Rumahku akan selalu terbuka untukmu, untuk para serigala waktu yang menerkamku dari balik pintu. :)

Pergi

Bolehkah aku pergi kali ini?
Aku hanya membawa apa yang aku cintai.
Jangan khawatir, aku tidak punya banyak ruang disini.
Sempit.Karena aku hanya mencintai satu kali.

Mungkin kamu tidak akan mengerti apa yang membuatku pergi melangkahkan kaki. Mungkin kamu akan menyumpah serapah bahwa aku ini perempuan tidak tahu diri. Ini salahku. Aku terlalu salah untuk selalu tetap tinggal dan menemuimu kembali. Aku yang tak pernah mengguyurmu dengan banjir badai kata hati yang sungguh terlalu lama aku makan sendiri. Seharusnya aku biarkan kamu menggigil dibawahnya tanpa henti. 

Apalah yang mampu kamu mengerti dariku sayang? Aku hanya butiran pasir yang setiap hari kamu lalui. Oh sungguh terlalu tinggi, ku kira aku akan menjadi lamunan yang menari indah memupuk mimpimu berkali-kali. aku salah lagi-lagi. 

Setelah aku pergi, mungkin kamu baru menyadari, tidak ada lagi yang terlalu banyak bicara menyuguhkan kebosanan untukmu setiap hari. Hanya akan ada sepi mengerak kering yang kamu basuh tiada henti. Lalu kamu menua,mengingat semua yang pernah kita miliki. Apakah saat itu semua ini sudah terlambat untuk kita perbaiki? Kamu yang memegang kunci. aku hanya perempuan yang terlalu takut memberi jawaban. 

Kelak kalau air matamu mengering dan jalanmu terhenti, kamu tahu dimana menemukanku. Akan ku bangun istana dari butiran pasir yang selalu menemanimu tanpa kamu tau. Bercak darahku akan menjadi petunjukmu. Yah. Aku tak tahu kapan kembali. Mungkin nanti, setelah kamu tidak mengenaliku lagi. Tidak ada pesan,atau harapan apalagi beban yang kutitipkan. Kamu tidak membutuhkanku. Masihkah ingat namaku? Selamat tinggal. kamu.

February 19, 2018

IDGAF

Terlalu berat aku memutuskan, untuk berhenti membencimu. Bukan untuk mulai memaafkan, tapi hanya untuk benar-benar merobekmu dari hidupku. Benci hanya semakin menenggelamkan aku dalam bara api yang cukup menghanguskan dinding-dinding hati disini. 

Hanya Tuhan yang tahu, aku cukup mampu saat ini untuk membunuhmu. Aku pun sanggup melihatmu terluka parah di hadapanku. sejujurnya, aku begitu berharap kau mati saja. Tetapi Tuhan ingin berbicara tentang pelajaran yang harus aku alami, tentang rantai-rantai berat yang harus aku pasung ini, tentang mendamaikan hati melepaskan benci. Demi hatiku sekali lagi.

Jangan kau tanyakan apakah aku akan memaafkan. tidak. Dendam ini akan selalu tertidur nyenyak dalam dekapan. Kau tidak akan pernah terselamatkan.

Hope you burn in hell with the rest of bastard people. :)

August 26, 2017

Waktu yang terbelah

Ini tentang segala rasa yang tertunda. Waktu yang mempertemukan kita di keadaan berbeda. Tapi keindahanmu sama saja. Aku biarkan jiwaku terbang mengikuti tarian angin yang membawaku padamu.

Mendung sore itu membingkiskan badai dengan pita biru raksasa. Aku tau warna yang begitu kau suka,katamu. Kau menggiringku pada gerimis. Memberiku se gelas kopi panas, sesekali bau tanah ikut menyesap. Masih belum hilang rindu ku karena lamunanku selalu berawal drsitu. Darimu. Lelah yg berangsur pudar menjadi kagum diam-diam. Mengagumi gerimismu yang selalu mampu menggelar karpet merah panjang untuk banyak kenangan. Dinginmu yg juga terkadang menyedihkan. Menelusup ke relung-relung hati, mencari sisa ruang di sebelah kiri. Aku mengacuhkan derasmu pula kadang2. Aku tak suka keriuhan. Tetap saja kau selalu berhasil mencabik jantung ini berserakan. Berulang kali aku melakukan kesalahan, katanya kesalahan yg berulang itu adalah sebuah keputusan.

Aku terombang ambing dalam sekotak laut. Laut yang tidak akan pernah lepas. Lagi pula, aku begitu takut akan luasnya laut yang bebas. Kau memelukku diantara percikan ombak. Aku tak tahu berapa lama kau akan menetap sebelum kembali beranjak. Yang ku tahu hadirmu selalu membawa cerita, tentang kau yang berputar diatas aliran anak sungai, berlarian bebas menghalau badai, dan sesekali menyelinap diantara celah tanah yg terbelah. Ada juga cerita tentang masa lalu kita yang takkan pernah selesai berandai-andai. Kalau saja.. kemudian diam berkuasa.

Ini tulisan tentangmu. Yang cukup mengharu biru batinku sekian waktu. Kemana perginya kau selama ini? Aku tak perduli. Sayang, Bangunkan aku ketika matahari sudah terbenam, karena hanya malam yang menyampaikan hatimu ke dalam dekapan.

August 23, 2017

Tentang bersamamu

Ada bola api menujuku. Panas. Meninggalkan luka bakar membekas. Ada waktu aku ingin menggenggamnya.. ada saat aku ingin menatapnya. Terkadang ingin ku sudahi saja semuanya.
Ada air yang ku siapkan untuk memadamkan cahaya.
Tapi tak kunjung ku pakai juga.
Aku semakin terbiasa nyalanya.

Sekian malam ku lalui dengan memperhatikan binarnya. Percikan kecil nya yang terkadang melukai wajah. Salahku terlalu dekat,mataku pun memerah.

Aku sering terjaga memaknai warnanya. Takut padam dan berpamit tanpa kata. Perhatikan putarannya, begitu indah memabukkan sang penjaga. Perlu kau tahu, bahwa yang sebenarnya, aku tak pernah berfikir mempersilahkan mu duduk dan berhenti. Tidak ada kopi lagi untuk kau nikmati. Ketakutanku pada akhirnya berarti. Bola api ini tak henti mengitari dinginku. Pun kau datang membawa pecahan puing yang lama menghilang. Yang selalu ku cari dan tak pernah ku temukan. Pecahan yang sudah ku ikhlaskan untuk tidak melengkapi ku lagi. Ternyata kau yang datang memadukan warnanya kembali.

Bola api ini menghangatkan ku.
Memeluk beku yang sudah tak ku hiraukan lagi.
Hatiku habis dipertaruhkan. Aku harus pergi disaat tinggi rembulan.

Mimpi yang ku datangi tanpa ketukan, tanpa suara. Mungkinkah seharusnya tidak ada kita di sini? Maafkan aku yang melangkah masuk mengusik hati.
Hidupmu sudah bahagia sebelumku. Seharusnya akan tetap begitu. Tapi bolehkah ku bawa bola api itu bersamaku? Terlalu gelap jalanku tanpanya. Tanpamu.

Entah garis apa yang sedang kita jalani ini. Takdir apa yang akan membawa kita nanti. Ada tiadamu nanti, sudah ku persiapkan hati untuk melangkah pergi. Sayang, aku hanya tempat berteduhmu sepersekian waktu. Satu pejaman mata lagi, aku sudah tak ada disitu. Terimakasih untuk segalanya, kau yang terbaik dari yang pernah ada.

January 28, 2017

EMPATHY

"if you could just put yourself in their shoes for a moment, perhaps you would understand why it is not as easy as you seem to think."

ini. menurut saya, ini hanya berlaku untuk memahami bagaimana merasakan hidup orang lain, atau untuk merasakan seperti apa yang orang lain rasakan dengan ikut berdiri di sisi yang sama.
walaupun tidak terlalu persis ikut merasakan jantung yang kesakitan atau otak yang kram, paling tidak masih bisa ada air mata yang ikut mengalir ketika mencoba 'sepatu orang lain' di kaki kita.

TAPI. sayangnya. ini tidak berlaku untuk sebagian besar orang yang tidak tahu cara berbicara atau memperlakukan orang lain. well, apparently, 'put yourself in their shoes for a moment', bagi sebagian orang, hanya berlaku untuk memahami KEADAAN seseorang. tidak mengajarkan kita untuk bagaimana bersikap dan berbicara. you know what i mean? it's like, banyak orang yang tidak menempatkan diri menjadi orang itu, ketika mereka berbicara.
ok, belibet.

"hei.. how are you? long time no see ya? YOU LOOK.. (and this, is not a great greetings to start) fat/skinny/dark/brown/whatever." me? i don't have anything to say. i'm just.. i think i wont ever say that if i were you. ah. that's what i meant. saya tidak akan pernah mengatakan itu seandainya saya jadi dia. that's not a greetings. apa yang membuat mereka merasa berhak menilai orang lain? orang-orang seperti mereka, seharusnya cukup di beri hak HIDUP saja. that's a max.
manusia selalu menghabiskan umur untuk menjadi sesuatu yang bisa di pelajari. damn, they're complicated and mostly jerk. dan untuk merubah mereka? adalah seperti memahat patung yang sudah mengeras. what are you doing? you are wasting your time.

yah, mungkin hanya saya yang berpandangan sempit. yang belum lama saya tahu adalah ternyata tidak semua orang terlahir dengan EMPATI. what is empathy? empathy is understanding other people by using your imagination to feel something like what they are feeling, such as pain,
sorrow, and other emotions. but how do people do it? oh, for this one, i'm allowed to judge.
MOST PEOPLE DON'T HAVE IT!! Setiap hari seharusnya kita mempunyai ritual untuk selalu bertukar sepatu. yah, demi melembutkan hati yang mengeras, demi mengerti apa yang membuatnya menangis begitu keras. bukan berfikir bahwa dia sudah gila, duduklah sebentar bersamanya.

begitu juga kehidupan yang terus bergulir ini,
Jakarta selalu melahirkan manusia-manusia baja yang setiap hari di tempa.
seperti banyak orang-orang yang berebut masuk ke dalam kereta commuter, adalah contoh Empati yang hilang di tengah kerumunan, tidak peduli tua atau muda, ibu hamil atau gadis belia. Semua ingin duduk. Pura-pura tidur agar tidak diganggu atau sibuk dengan handphonenya sendiri.
lain hari, ketika itu waktumu untuk berdiri, terlambat datang karena semalaman begadang menertawakan orang lain. apa yang sebenarnya terlintas di pikiranmu? apa yang setiap hari kau gadaikan demi kenyamananmu sendiri itu?

sekecil apapun, masih ada harapan. kalau kita sudah tidak mempunyai empati, baiklah.
tapi, jangan hancurkan istana pasir di dalam benak anak-anak kecil yang baru saja akan di bangun.
mungkin saja empati mereka tumbuh subur disitu. karena dengan empati, hidup yang keras ini akan mudah kau lalui seperti mata air terakhir di bumi.

lalu, sepatu siapa yang kau pakai kali ini?

July 22, 2016

BERISIK!

Keras amat neng suaranya?

Ada perempuan berisik yang pernah saya temui. Perempuan paling lantang yang selalu memekakkan telinga. Ingin sekali cepat-cepat saya bungkus wajahnya dengan kain seadanya. Saya tidak akan pernah terbiasa.

Saya memperhatikan wajahnya. Tidak ada hal yang istimewa. Biasa saja. Tidak ada juga pengeras suara di langit-langit mulutnya ku rasa. Tapi apa yang membuatnya suaranya begitu menyiksa saya? Oh mungkin juga segala apa yang dia bicarakan tidak ada isinya juga. Ternyata benar apa yang sedari dulu tertulis, bahwa tong kosong nyaring bunyinya. Ini sungguh-sungguh nyata.

Apa yang kau cari perempuan?
Bukankah cukup perlahan saja kau ucap kata, akan banyak manusia memuja? Lalu Kenapa kau tinggikan suaramu menaiki awan tanpa tujuan? Membingungkan.

Rendahkan lah suaramu, teduhkanlah tatapmu. Bukankah kau terlahir sebagai tempat mencari ketenangan dan menjadi ibu? Perbanyak diam, perhatikan dan dengarkan. Karena itu yang nanti anak-anakmu mimpikan. :)