August 7, 2018

Semua untukmu

Coba sini. Mendekatlah padaku. Sudah sampai hembusan nafasku di ujung-ujung kulitmu? Sudah lekat-kah tatapanku? Sekarang coba, apa warna bola mataku? Apa kau bisa rasakan genggaman eratku? 
Bisa rasakan kuku panjangku menembus jauh ke pergelangan denyut nadimu? Sekarang coba, pakai bajuku. Bisa kau rasakan kain kasarnya di atas perutmu? Atau seratnya justru melukai punggungmu? 
Oh! Aku rasa kau harus coba celanaku. Memang sudah tidak bagus lagi, tapi celana ini saksi. Lihat saja noda-nodanya yang masih wangi. Entah wangi darah atau minyak wangi. Aku menggigil kedinginan! Ditengah bongkahan es lembut seperti ini, apa yg aku lakukan dengan memberikan semua yg aku miliki padamu? Terkecuali sepasang sepatu tanpa warna ini yang masih memeluk kakiku. Tapi, aku pikir, aku berikan saja kepadamu lagi. Biar aku tak beralas kaki, aku masih bisa mencari yang baru lagi. 

Nah! Ini yang aku tunggu, sekarang kau sudah menjadi aku! Ini benar-benar aku! Aku mengitarimu, berdecak kagum! Kau sudah memaki baju hitam dengan wangi parfum di bahunya. Itu wangiku! Kau sudah memakai celana yang umurnya melebihi umur cintaku pada kekasihku! Dan akhirnya kaupun memakai sepatu yang selalu ku pakai untuk menjalani hidup! Sekarang, berjalanlah ke depan, langkahkan kakimu menembus lorong-lorong itu, basahi sepatumu dengan genangan air sehabis hujan yang selalu ke ganggu di pinggir jalan. Apapun! Apapun yang penting jadilah aku! Aku berikan semua itu untukmu. Pergilah,aku selalu disini andai kau mencariku. Kalau-kalau satu hari, kau sudah tidak kuat lagi menjadi aku, atau kau tidak sanggup lagi berjalan dengan penuh luka disitu. Kembalilah. Saat kau kembali, kau lucuti semua milikku. Lalu, ku jamu kau dengan makan malam dirumahku. Bersama orang-orang yang sebelumnya mencoba berbicara lantang tentang hidupku. Kita akan berpesta tak kenal waktu, dan ceritakan disitu, bagaimana rasanya menjadi aku. 

Oh pesta itu akan menjadi sunyi. Tak akan suara denting gelas maupun piring berbunyi. Rumahku akan selalu terbuka untukmu, untuk para serigala waktu yang menerkamku dari balik pintu. :)

Pergi

Bolehkah aku pergi kali ini?
Aku hanya membawa apa yang aku cintai.
Jangan khawatir, aku tidak punya banyak ruang disini.
Sempit.Karena aku hanya mencintai satu kali.

Mungkin kamu tidak akan mengerti apa yang membuatku pergi melangkahkan kaki. Mungkin kamu akan menyumpah serapah bahwa aku ini perempuan tidak tahu diri. Ini salahku. Aku terlalu salah untuk selalu tetap tinggal dan menemuimu kembali. Aku yang tak pernah mengguyurmu dengan banjir badai kata hati yang sungguh terlalu lama aku makan sendiri. Seharusnya aku biarkan kamu menggigil dibawahnya tanpa henti. 

Apalah yang mampu kamu mengerti dariku sayang? Aku hanya butiran pasir yang setiap hari kamu lalui. Oh sungguh terlalu tinggi, ku kira aku akan menjadi lamunan yang menari indah memupuk mimpimu berkali-kali. aku salah lagi-lagi. 

Setelah aku pergi, mungkin kamu baru menyadari, tidak ada lagi yang terlalu banyak bicara menyuguhkan kebosanan untukmu setiap hari. Hanya akan ada sepi mengerak kering yang kamu basuh tiada henti. Lalu kamu menua,mengingat semua yang pernah kita miliki. Apakah saat itu semua ini sudah terlambat untuk kita perbaiki? Kamu yang memegang kunci. aku hanya perempuan yang terlalu takut memberi jawaban. 

Kelak kalau air matamu mengering dan jalanmu terhenti, kamu tahu dimana menemukanku. Akan ku bangun istana dari butiran pasir yang selalu menemanimu tanpa kamu tau. Bercak darahku akan menjadi petunjukmu. Yah. Aku tak tahu kapan kembali. Mungkin nanti, setelah kamu tidak mengenaliku lagi. Tidak ada pesan,atau harapan apalagi beban yang kutitipkan. Kamu tidak membutuhkanku. Masihkah ingat namaku? Selamat tinggal. kamu.

February 19, 2018

IDGAF

Terlalu berat aku memutuskan, untuk berhenti membencimu. Bukan untuk mulai memaafkan, tapi hanya untuk benar-benar merobekmu dari hidupku. Benci hanya semakin menenggelamkan aku dalam bara api yang cukup menghanguskan dinding-dinding hati disini. 

Hanya Tuhan yang tahu, aku cukup mampu saat ini untuk membunuhmu. Aku pun sanggup melihatmu terluka parah di hadapanku. sejujurnya, aku begitu berharap kau mati saja. Tetapi Tuhan ingin berbicara tentang pelajaran yang harus aku alami, tentang rantai-rantai berat yang harus aku pasung ini, tentang mendamaikan hati melepaskan benci. Demi hatiku sekali lagi.

Jangan kau tanyakan apakah aku akan memaafkan. tidak. Dendam ini akan selalu tertidur nyenyak dalam dekapan. Kau tidak akan pernah terselamatkan.

Hope you burn in hell with the rest of bastard people. :)

August 26, 2017

Waktu yang terbelah

Ini tentang segala rasa yang tertunda. Waktu yang mempertemukan kita di keadaan berbeda. Tapi keindahanmu sama saja. Aku biarkan jiwaku terbang mengikuti tarian angin yang membawaku padamu.

Mendung sore itu membingkiskan badai dengan pita biru raksasa. Aku tau warna yang begitu kau suka,katamu. Kau menggiringku pada gerimis. Memberiku se gelas kopi panas, sesekali bau tanah ikut menyesap. Masih belum hilang rindu ku karena lamunanku selalu berawal drsitu. Darimu. Lelah yg berangsur pudar menjadi kagum diam-diam. Mengagumi gerimismu yang selalu mampu menggelar karpet merah panjang untuk banyak kenangan. Dinginmu yg juga terkadang menyedihkan. Menelusup ke relung-relung hati, mencari sisa ruang di sebelah kiri. Aku mengacuhkan derasmu pula kadang2. Aku tak suka keriuhan. Tetap saja kau selalu berhasil mencabik jantung ini berserakan. Berulang kali aku melakukan kesalahan, katanya kesalahan yg berulang itu adalah sebuah keputusan.

Aku terombang ambing dalam sekotak laut. Laut yang tidak akan pernah lepas. Lagi pula, aku begitu takut akan luasnya laut yang bebas. Kau memelukku diantara percikan ombak. Aku tak tahu berapa lama kau akan menetap sebelum kembali beranjak. Yang ku tahu hadirmu selalu membawa cerita, tentang kau yang berputar diatas aliran anak sungai, berlarian bebas menghalau badai, dan sesekali menyelinap diantara celah tanah yg terbelah. Ada juga cerita tentang masa lalu kita yang takkan pernah selesai berandai-andai. Kalau saja.. kemudian diam berkuasa.

Ini tulisan tentangmu. Yang cukup mengharu biru batinku sekian waktu. Kemana perginya kau selama ini? Aku tak perduli. Sayang, Bangunkan aku ketika matahari sudah terbenam, karena hanya malam yang menyampaikan hatimu ke dalam dekapan.

August 23, 2017

Tentang bersamamu

Ada bola api menujuku. Panas. Meninggalkan luka bakar membekas. Ada waktu aku ingin menggenggamnya.. ada saat aku ingin menatapnya. Terkadang ingin ku sudahi saja semuanya.
Ada air yang ku siapkan untuk memadamkan cahaya.
Tapi tak kunjung ku pakai juga.
Aku semakin terbiasa nyalanya.

Sekian malam ku lalui dengan memperhatikan binarnya. Percikan kecil nya yang terkadang melukai wajah. Salahku terlalu dekat,mataku pun memerah.

Aku sering terjaga memaknai warnanya. Takut padam dan berpamit tanpa kata. Perhatikan putarannya, begitu indah memabukkan sang penjaga. Perlu kau tahu, bahwa yang sebenarnya, aku tak pernah berfikir mempersilahkan mu duduk dan berhenti. Tidak ada kopi lagi untuk kau nikmati. Ketakutanku pada akhirnya berarti. Bola api ini tak henti mengitari dinginku. Pun kau datang membawa pecahan puing yang lama menghilang. Yang selalu ku cari dan tak pernah ku temukan. Pecahan yang sudah ku ikhlaskan untuk tidak melengkapi ku lagi. Ternyata kau yang datang memadukan warnanya kembali.

Bola api ini menghangatkan ku.
Memeluk beku yang sudah tak ku hiraukan lagi.
Hatiku habis dipertaruhkan. Aku harus pergi disaat tinggi rembulan.

Mimpi yang ku datangi tanpa ketukan, tanpa suara. Mungkinkah seharusnya tidak ada kita di sini? Maafkan aku yang melangkah masuk mengusik hati.
Hidupmu sudah bahagia sebelumku. Seharusnya akan tetap begitu. Tapi bolehkah ku bawa bola api itu bersamaku? Terlalu gelap jalanku tanpanya. Tanpamu.

Entah garis apa yang sedang kita jalani ini. Takdir apa yang akan membawa kita nanti. Ada tiadamu nanti, sudah ku persiapkan hati untuk melangkah pergi. Sayang, aku hanya tempat berteduhmu sepersekian waktu. Satu pejaman mata lagi, aku sudah tak ada disitu. Terimakasih untuk segalanya, kau yang terbaik dari yang pernah ada.

January 28, 2017

EMPATHY

"if you could just put yourself in their shoes for a moment, perhaps you would understand why it is not as easy as you seem to think."

ini. menurut saya, ini hanya berlaku untuk memahami bagaimana merasakan hidup orang lain, atau untuk merasakan seperti apa yang orang lain rasakan dengan ikut berdiri di sisi yang sama.
walaupun tidak terlalu persis ikut merasakan jantung yang kesakitan atau otak yang kram, paling tidak masih bisa ada air mata yang ikut mengalir ketika mencoba 'sepatu orang lain' di kaki kita.

TAPI. sayangnya. ini tidak berlaku untuk sebagian besar orang yang tidak tahu cara berbicara atau memperlakukan orang lain. well, apparently, 'put yourself in their shoes for a moment', bagi sebagian orang, hanya berlaku untuk memahami KEADAAN seseorang. tidak mengajarkan kita untuk bagaimana bersikap dan berbicara. you know what i mean? it's like, banyak orang yang tidak menempatkan diri menjadi orang itu, ketika mereka berbicara.
ok, belibet.

"hei.. how are you? long time no see ya? YOU LOOK.. (and this, is not a great greetings to start) fat/skinny/dark/brown/whatever." me? i don't have anything to say. i'm just.. i think i wont ever say that if i were you. ah. that's what i meant. saya tidak akan pernah mengatakan itu seandainya saya jadi dia. that's not a greetings. apa yang membuat mereka merasa berhak menilai orang lain? orang-orang seperti mereka, seharusnya cukup di beri hak HIDUP saja. that's a max.
manusia selalu menghabiskan umur untuk menjadi sesuatu yang bisa di pelajari. damn, they're complicated and mostly jerk. dan untuk merubah mereka? adalah seperti memahat patung yang sudah mengeras. what are you doing? you are wasting your time.

yah, mungkin hanya saya yang berpandangan sempit. yang belum lama saya tahu adalah ternyata tidak semua orang terlahir dengan EMPATI. what is empathy? empathy is understanding other people by using your imagination to feel something like what they are feeling, such as pain,
sorrow, and other emotions. but how do people do it? oh, for this one, i'm allowed to judge.
MOST PEOPLE DON'T HAVE IT!! Setiap hari seharusnya kita mempunyai ritual untuk selalu bertukar sepatu. yah, demi melembutkan hati yang mengeras, demi mengerti apa yang membuatnya menangis begitu keras. bukan berfikir bahwa dia sudah gila, duduklah sebentar bersamanya.

begitu juga kehidupan yang terus bergulir ini,
Jakarta selalu melahirkan manusia-manusia baja yang setiap hari di tempa.
seperti banyak orang-orang yang berebut masuk ke dalam kereta commuter, adalah contoh Empati yang hilang di tengah kerumunan, tidak peduli tua atau muda, ibu hamil atau gadis belia. Semua ingin duduk. Pura-pura tidur agar tidak diganggu atau sibuk dengan handphonenya sendiri.
lain hari, ketika itu waktumu untuk berdiri, terlambat datang karena semalaman begadang menertawakan orang lain. apa yang sebenarnya terlintas di pikiranmu? apa yang setiap hari kau gadaikan demi kenyamananmu sendiri itu?

sekecil apapun, masih ada harapan. kalau kita sudah tidak mempunyai empati, baiklah.
tapi, jangan hancurkan istana pasir di dalam benak anak-anak kecil yang baru saja akan di bangun.
mungkin saja empati mereka tumbuh subur disitu. karena dengan empati, hidup yang keras ini akan mudah kau lalui seperti mata air terakhir di bumi.

lalu, sepatu siapa yang kau pakai kali ini?

July 22, 2016

BERISIK!

Keras amat neng suaranya?

Ada perempuan berisik yang pernah saya temui. Perempuan paling lantang yang selalu memekakkan telinga. Ingin sekali cepat-cepat saya bungkus wajahnya dengan kain seadanya. Saya tidak akan pernah terbiasa.

Saya memperhatikan wajahnya. Tidak ada hal yang istimewa. Biasa saja. Tidak ada juga pengeras suara di langit-langit mulutnya ku rasa. Tapi apa yang membuatnya suaranya begitu menyiksa saya? Oh mungkin juga segala apa yang dia bicarakan tidak ada isinya juga. Ternyata benar apa yang sedari dulu tertulis, bahwa tong kosong nyaring bunyinya. Ini sungguh-sungguh nyata.

Apa yang kau cari perempuan?
Bukankah cukup perlahan saja kau ucap kata, akan banyak manusia memuja? Lalu Kenapa kau tinggikan suaramu menaiki awan tanpa tujuan? Membingungkan.

Rendahkan lah suaramu, teduhkanlah tatapmu. Bukankah kau terlahir sebagai tempat mencari ketenangan dan menjadi ibu? Perbanyak diam, perhatikan dan dengarkan. Karena itu yang nanti anak-anakmu mimpikan. :)

July 15, 2016

Biasa saja

Belum lama, harapan-harapan saya sebatas menyelesaikan HARI INI dengan baik-baik saja. That's what i really want. Muluk-muluknya cita-cita dan semua mimpi biar saja menunggu disana. Saya hidup sekarang secukupnya. Ada beberapa titik dalam hidup yang sungguh mengajarkan nilai "ketidak apa-apaan" yang tinggi. Buktinya? Saya sekarang menjadi manusia yang bebas. Sebebas dan seikhlas burung terbang yang sewaktu-waktu terenggut nyawa karena banyak bidikan senjata. Jiwa saya lepas di atas sana, karena hidup sudah membentuk saya menjadi perempuan biasa. Ter-biasa dan sekali lagi, tidak apa-apa. Anehnya, Tuhan memberikan saya bungkusan khusus dalam hati, yang berisi tawa bahagia yg kau tidak akan mengerti jika ku bagi. Ajaib ya? Menurut saya, disitulah keajaiban menjadi manusia yang selalu ingin belajar mengerti tentang apa yang sebenarnya hidup berusaha katakan. Bukan melihat apa yang terucap, tetapi memperhatikan apa yang tidak tersingkap.

Dulu, saya marah kalau tangan saya tidak dapat menggapai atau ada yang tidak sesuai. Akan kau lihat badai dan hancur nya segala tercerai berai. Lalu saya berfikir, apa yang sebenarnya saya cari? Puaskah saya terbakar sedikit api? Lalu siapa yang harus membereskan semua kekacauan ini? Kemudian hidup berencana memaksa saya duduk di bangku sekolahan yang belum pernah saya masuki sebelumnya. Tangan dan kaki saya terbelenggu, saya tidak dapat melangkah dari situ. Bila ingin marah, biarkan saja membakar diri sampai memerah darah. Bila ingin merusak, rusaklah bangkumu sendiri supaya terduduk ku di lantai yang dingin ini. Apapun yang akan ku lakukan, selalu panahnya kembali bersarang di jantung menghilangkan debaran. Kemudian sejak hari itu, saya terdiam dan memperhatikan, ternyata hidup ingin menempa saya dari batu biasa menjadi berlian.

Sekarang? Saya selalu mengiyakan segala permintaan hidup yang sering menawarkan bingkisan di tengah gelap pekat yang tak dapat kau lihat. Saya melangkahkan kaki dengan pasti menapaki anak tangga dengan semua lampu yang mati. Tidak mungkin Tuhan meninggalkan saya begitu saja tanpa ada titik cahaya di ujungnya nanti.

Yah, jiwa saya mengepakkan sayapnya kesana kemari. Menertawakan kecemasan dalam diri tentang apa yang ada untuk saya nanti? Angin meniup arah mengajak saya semakin pasrah. Inikah yang Kau namakan ikhlas? Karena saya begitu bahagia dan lepas. Harapan bukan untuk di tunggu sampai terdengar doamu dari kalbu. Harapan itu untuk kau berikan kepadaNya berserah diri, lalu menyelesaikan usiamu seandainya pelukpun tak sempat kau beri.

Ps : tulisan ini tertuju untuk semua orang yang begitu mati-matian berjuang menghabiskan waktu mencapai segala yang di impikan. Berhentilah sejenak, karena waktu tidak akan kembali dan kau akan menangisinya sekali lagi.

July 12, 2016

Pencuri waktu


Jika ada yang harus di salahkan atas semua rasa yang berterbangan di langit sore yang merah merona, mungkin adalah ketidaktahuan kita bahwa waktu memang tidak akan pernah mengembalikan semua. Dia akan terus dan terus berlari, mencuri segala potongan, yang terbiasa kita sebut dengan kehilangan. Sepanjang jalan, hanya sisa-sisa kecil yang bisa kita kumpulkan, lalu simpan dalam-dalam.

Memang, sesuatu akan terasa begitu dekat dan mengalir deras sampai tenggorokan tercekat juga, adalah ketika keberadaannya telah tiada. Menelusuri jalan itu,selalu menggandeng banyak tanda tanya, juga kebingungan yang tak kunjung reda. Bingkai-bingkai itu masih utuh. Warnanya pun tak pernah pudar atau melepuh. Mungkin kah kau sering kembali sambil berlari bersimbah peluh?

Yang terlihat banyak juga penyesalan berceceran, dan lupa pun membungkus berjuta kata yang pernah terucap. Ku kira sudah tidak ada, nyatanya ada putik bunga bertumbuh di sekitarnya, menandakan bahwa Tuhan masih menjaganya. Entah rasa syukur atau bukan yang harus aku katakan, karena berkali-kali aku kembali, semua tetap seperti ini. Atau aku harus mencari penghapus memori? Ternyata bukan itu yang aku ingini, banyak yang akan tetap tersimpan jauh di lubuk hati. Seperti ampas kopi kau seduh kembali, semua rasa ini akan selalu menjadi bekas mewangi yang tidak dapat kau cium lagi. Kapal sudah berlayar pergi, yang tersisa hanya kita yang menyesali, bagaimana dulu kita biarkan waktu menghempas memori, lalu menyelesaikan sulaman hati sendiri. Bentuknya memang tidak dapat ku kenakan lagi, tapi hanya ini yang aku miliki. Yang tersisa dari ingatan, hujan dan daun-daun yang berguguran, hanyalah putaran angin yang tak pernah-pernahnya siap memetik kenangan.

Ajaibnya, waktu selalu berhasil mengubah luka menjadi tawa, dan kecewa menjadi hal yang tidak apa. Mungkin karena kita juga semakin beranjak dewasa, banyak hal yang kembali kita tertawakan bersama. Itu  juga yang membuatku mencintai segelas kopi. Pahitnya yang selalu ku cari-cari lagi, merasuk ke dalam, memberi pelajaran yang tak ingin ku selesaikan. Andai bisa ku dengar terus-terusan, hanya itu lagu nostalgi yang akan aku mainkan. Mungkin suatu saat kita akan bertemu, tanpa memecah tatap yang berpendar. Ini hadiah terhebat yang pernah kau berikan, karena oleh-oleh dari sebuah pertemuan, adalah kenangan yang tak terelakan. Terimakasih :)

March 31, 2016

ruang sempit.

saya bukan orang yang suka banyak berteman, tapi saya punya segelintir sahabat yang membahagiakan. saya juga tidak suka berkenalan, saya merasa cukup dan hal baru selalu terasa menegangkan. saya selalu di kelilingi manusia yang itu-itu saja, paling tidak, saya terhindar dari banyaknya muka dua. ada yang mencoba tinggal, mungkin tidak suka, ini sepi dan membosankan. lalu beranjak mencari keramaian. ada yang tidak pernah pergi, sedari dulu selalu disini mengisi ruang kosong dalam hati. sejatinya, hanya mereka yang saya miliki.

saya di nilai penyendiri. memang itu yang saya cari. telapak tangan saya berkeringat ketika banyak orang berbicara dan mendengung pekat. sunyi sepi yang selalu saya ingini, menatap langit kebiruan dengan sedikit rintik hujan menemani. jangan sekali sekali datang lalu mencari tempat, saya tidak akan menanggapi. saya sudah merasa cukup dengan ini.
ruang hati saya sempit. batin ini tak mampu lagi menampung berbagai sakit.
kita bercerita saja di sore hari, sambil menunggu senja mengabadikan janji kita sekali lagi.

saya tidak suka banyak bicara. kalau saja menulis bisa di bawa-bawa.
Pun semakin lama, banyak hal yang tidak mampu juga saya tuliskan. saya hanya dalam-dalam merasakan. lalu apa yang saya suka? Mengetuklah perlahan, mungkin akan saya bukakan. Jangan lupa kau bawa secangkir kopi kesukaan, kita akan berbincang mengupas malam tanpa berat beban. Saya bukan menyulitkan, saya hanya menanti sampai kapan kau mampu bertahan disini :)

March 25, 2016

membebaskan hati

melepas pergi adalah kesiapan untuk kehilangan satu ruang lagi.  kekosongan hati yang memaksamu untuk duduk sendiri, berfikir untuk merubah perjalanan mimpi.
kemudian kau ragu, apakah ada harga yang harus kau beli demi mempersiapkan itu? tapi ada yang membuatmu ingin terbang bersama kepakan indah dan berputar di antara pelangi. diam-diam ada titik bergaris yang menyambung senyum simpul, kau tertunduk lega.

dia yang kau lepas pergi adalah rasa benci. pasung yang kau buka sendiri. kekhawatiran yang kau bawa jauh dari hati. hanya ketenangan yang kau miliki. sudah seharusnya begini. hanya saja, terlalu banyak manusia yang tidak menyadarinya.bahwa ada yang menggerogoti jantung, tanpa kau sadar sudah lama hatimu lelah bertarung. menghabiskan nafas, mengikis bahagiamu kian menjadi ampas. hiduplah seperti apa yang kau ingini, sederhana tanpa rantai besi yang mengikat kakimu sendiri. bebaskan jiwamu mengiringi bunga-bunga yang baru saja ingin bersemi, putari rintik hujan yang lembut mendinginkan hati. berharaplah seperlunya, syukuri semua.